Pages

Selasa, 17 April 2012

Lailatul qadr Malam berderajat seribu bulan: Suatu kesalahan pemahaman

Sebagian besar umat islam memiliki kepercayan, bahwa bahwa pada 10 hari akhir bulan ramadhan, dihari yang ganjil, turun malaikat dan ruh ke alam dunia di malam hari sampai terbit fajar sebagai rahmat bagi mereka yang berpuasa dan tidak tidur dengan memberikan derajat seribu bulan=30.000 hari, kepercayaan itu bersandar pada teks Alquran surat Alqadr ayat 1-5. Oleh karena itu umat islam pada malam akhir ramadhan, melakukan i’tikaf di masjid (semalam suntuk tidak tidur atau melekan untuk beribadah, ). Ada yang sampai melakukan cuti kerja, semata-mata ingin mendapatkan pahala seribu bulan.

Kuatnya dorongan i’tikaf itu karena ada yang mematematiskan derajat seribu bulan dengan sistem kelipatan. Orang yang mendapatkan lailatul qadr saat shalat tahajjud, sama dengan dilakukan diluar hari itu selama seribu bulan atau 30ribu hari atau 83 tahun 4 bulan.
Sehingga setiap malam-malam ganjil, masjid-masjid di surabaya dimalam hari layaknya seperti pasar malam.
Dalam beberapa hadits juga memberitahukan bahwa rasul dan sahabat-sahabatnya pada hari-hari tersebut juga melakukan i’tikaf.
Koreksi
Surat al-qadr yang dijadikan landasan pemikiran diatas. menurut pandangan penulis, akibat keliru menafsirkannya. Isi surat tersebut lengkapnya sebagai berikut:(diterjemahkan oleh departemen agama )
1. Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Kalau dilihat secara sekilas dari terjemahan teks tersebut, sepertinya tidak ada permasalahan dengan aqidah diatas, tapi jika diperhatikan dengan seksama ada beberapa kejanggalan, diantaranya ialah:
1.Menafsairkan kata ganti Hu/nya dengan al-quran
2.Hilangnya pokok bahasan dalam hal ini kata gantii HU/NYA pada ayat 2 dan 3. Sehingga yang menjadi objek pembahasan ayat 2 dan 3 ialah lailatul qadr atau malam kemuliaan. Akibatnya, yang berderajat 1000 bulan bukan yang diturunkan melainkan malam qadr-nya.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah SAW pernah menyebut-nyebut seorang Bani israil yang berjuang di jalan Allah mengguanakan senjatanya selama 1000 bulan terus-menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan surat Alqadr bahwa 1 malam lailatul qadr(yang diturunkan oleh allah pada malam lailatul qadr) lebih baik dari perjuangan Bani israil selama seribu bulan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Al Wahidi yang bersumber dari mujahid.
Saya melihat dibalik kekaguman kaum muslimun terhadap tokoh yang dkisahkan nabi, ada seberkas keresahan, bahwa mereka tidak akan dapat menandingi mereka dalam mendapatkan amal shaleh, karena usia mereka rata-rata 60 tahun sedangkan umat terdahulu umurnya ada yang seribu tahun. Lalu allah memberi petunjuk yang tertulis pada surat al qadr, apabila mereka mau melaksanakan instruksi surat al qadr, niscaya yang dilakukan mereka lebih baik dari 1000 bulan.
lalu apakah inti petunjuk tersebut ? yaitu melaksanakan yang diturunkan allah pada malam lailatul qadr, malam pertama diturunkannya wahyu, dimana allah menggambarkannya pada waktu itu diturunkannya malaikat-malaikat sebagai saksi diturunkannya wahyu baru sebagai pengganti atau pembaru dari wahyu-wahyu sebelumnya. dijelaskan pada ayat 4 dan 5 dari surat al qadr.
sebagaimana telah kita ketahui bahwa wahyu pertama yang diturunkan Allah ialah SURAT AL ALAQ ayat 1-5, jadi kata hu pada surat Alqadr ayat 1 bukan Alquran secara umum yang diterjemahkan oleh Departemen Agama, melainkan surat Al Alaq.
Pada ayat ke-2 Allah, memberikan rangsangan berpikir. taukah kamu apakah potensi yang diturunkan pada malam lailatul qadr itu ? lalu allah memberitahu bahwa potensi surat Al alaq yang diturunkan pada malam lailatul qadr itu lebih baik dari 1000 bulan.
Terjemahan departemen agama, tidak memasukkan pokok bahasan dalam hal ini ialah surat al alaq pada ayat ke-2 dan ke-3, akibatnya yang menjadi inti pembahasan ialah MALAM LAILATUL QADRNYA, padahal malam lailatul qadr pada ayat 1,merupakan penjelasan bukan pokok bahasan. Kekeliruan ini mendorong umat islam tidak menggali surat al alaq melainkan menggali apa malam lailatul qadr itu. Lalu ditafsirkan seperti pemahaman diatas, malaikat turun dari langit pada akhir bulan ramadhan dengan mengabsen orang yang tidak tidur untuk dilipat pahalanya.
Ayat sejenis itu dalam al quran sangat banyak, seperti terrulis pada surat at taghaabun ayat 17 berbunyi:“Jika kamu meminjamkan kepada allah pinjaman yang baik, niscaya allah akan melipat gandakan”. Bilamana kita bersandar pada teks murni akan melahirkan penafsiran bahwa allah perlu pinjaman dari manusia. Hal itu tidak mungkin. Arti konteksnya ialah bukan Allah yang diberi pinjaman, melainkan orang-orang yang fakir dan miskin.
Relevansi surat al alaq
Potensi surat Al alaq sebagai pelipat amal 1000 bulan, dapat dipahami karena isi surat itu mengandung penggerak kemajuan yang tidak ada habis-habisnya. Isinya sebagai berikut:
1.Bacalah, terhadap sifat-sifat(nama) penguasamu yang telah menciptakan.
2.Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.Bacalah dan (niscaya kau dapatkan) penguasamu zat yang maha pemurah.
4.Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam.
5.Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.
Nabi muhammad ialah manusia yang tidak dapat membaca dan menulis. Tidak mungkin Allah yang Maha Tahu memerintah apa yang tidak dapat dilakukan. dengan demikian membaca disana harus diartikan engamati, melakukan penelitian terhadap sifat-sifat penguasamu. dalam hal itu ialah Allah lewat semua ciptaannya, lebih simpelnya. iqra’ adalah perintah meneliti terhadap lingkungan alam, manusia dan allah. Dengan penelitian itu akan diketahui, Allah menciptakan manusia dari segumpal darah, mengetahui kemurahan allah, tidak bersifat dogma melainkan lewat analisis rasional. Ayat 4 dan 5, allah memberitahukan bahwa penelitian data lapangan lebih efektif dibanding penelitian menggunakan alat pena atau computer.
Kemampuan, kecepatan gerak orang mengetahui sifat alam dengan yang tidak mengetahui dalam mempotensikan sumber daya alam perbandingannya bisa 1:30.000 baik secara kuantitas maupun kualitas. Kita dapat mengambil contoh, orang islam pedalaman yang tidak mengenal teknologi elektronik berkeinginan menyampaikan ayat kursi kepada penduduk indonesia yang berjumlah 180 juta, bila 1 hari ia menyampaikan pada 1000 orang, nixcaya jumlah itu dapat ditempuh pada 180.000 hari = 60.000 bulan = 500 tahun. Bagi mereka yang mengenal pengetahuan dan menggunakan teknologi televisi akan dapat dicapai 1 jam atau 1 hari atau paling lama 1 bulan. Perbandingan orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui teknologi, 1:6.000 bulan. Demikian juga pada berbagai bidang aktifitas kehidupan, pengobatan, pengajaran, transportasi, penyelesaian perang. Orang yang mengenal lingkungannya lebih berkualitas dibanding dengan mereka yang tidak mengetahui.
Beberapa hadits banyak disebutkan, bahwa ilmuan dengan para ahli ibadah seperti cahaya bulan dengan bintang.
Dengan mempelajari surat al alaq, umat islam akan dapat mengalahkan kualitas amaliah yang dilakukan oleh umat terdahulu, walaupun secara usia dan semangat lebih tinggi dari umat terdahulu.
Keliru besar orang yang ingin mendapatkan derajat 1000 bulan dengan menunggu pada bulan ramadhan akhir, langkah tepat bila ingin mendapatkan derajat 1000 bulan ialah dengan terus mengkaji realitas alam disekitar kita dari hasil pengetahuan tersebut, kita terapkan untuk pemecahan masalah sosial. Dengan demikian derajat 1000 bulan tidak hanya pada bulan puasa saja. Melainkan pada bulan-bulan lainnya dan tidak hanya diperoleh oleh umat islam saja, melainkan orang-orang diluar orang islam juga berhak menyandang derajat 1000 bulan bila mengkaji dan mengetrapkan di lingkungan alam. kenyataan ini dapat dibuktikan dengan kebesaran Rusia, Amerika dan negara-negara eropa dibandingkan dengan umat islam dalam masalah teknologi.
Dalam pemikiran ini, kami menyimpulkan bahwa i’tikaf yang dilakukan oleh nabi pada bulan ramadhan, tidak hanya dalam rangka mendapatkan derajat 1000 bulan melainkan dalam rangka perwujudan rasa syukur mengenang sejarah besar tentang turunnya al quran atau bulan ini dipandang oleh nabi sebagai bulan yang efektif ditinjau dari suasana sosial dan psikis untuk melkukan iqra’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar